Monaco Buang Sampah ke Prancis

By: Veby Indah on December 30th, 2008

No comments

Monaco and France has differences when it comes to their waste management. In Monte Carlo, you don’t see any rubbish in street or parks. But in France you do. You have to walk carefully to avoid stepping on dog’s, cigarettes or plastics on streets.

Shockingly, Monaco which perform as a very clean country fit for tourism, threw their garbages to its neighbour, France. Though paper rubbish are incinerated in Monte Carlo, the dangerous hazards and others are sent to Sivades Factory in Cannes Mandeleiu and Blanchi Factory in Lavilledieux, France.

There, the rubbish only get ferried with- as Larini-Negri from environment Department of Monaco said-“special treatment”. She can’t explained what kind of special treatment it is.

I found out that those factories re-cycle their garbages and have a lot more left over then if they were incinerated like in Monaco. No wonder, France looks more dirty then Monaco

Setiap hari bolak-balik Monako-Prancis, membuat saya menyadari perbedaan kedua negara ini. Monako rapi jali, tanpa ada satu pun sampah tercecer di area publik. Penduduk di negara Grimaldi ini hobi berjalan-jalan pagi dan sore bersama anjing-anjing kesayangan mereka. Tetap saja tak satu pun kotoran anjing tercecer di area publik.

Pena saya pernah terlempar keluar jendela mobil di depan Casino Tourism de Monaco. Lima menit saya kembali, pena itu sudah lenyap tak berbekas. Polisi Monaco telah mengira pena murah itu sebagai sampah. Mereka hanya tersenyum minta maaf.

Gara-gara terbiasa rapi jali di Monaco; Nice, Prancis, kota di mana saya menginap jadi terasa lebih kotor. Di jalan-jalan, dengan mudah saya temui sampah kecil dan puntung rokok. Berjalan pun harus berhati-hati, kalau tak ingin sial menginjak kotoran anjing. Sampah-sampah kecil ini paling sering terlihat berceceran pada pagi hari, saat petugas kebersihan belum beraksi. Para petugas sampah akan datang setiap pukul 7 pagi. Mereka yang gemar berolahraga pagi harus berhati-hati melangkah sebelum waktu itu.

Penasaran atas kebersihan Monako, saya pun berkunjung ke Departemen de l‘Enquipement de l‘Environementet de l‘Urbanisme Monaco. Departemen Lingkungan Hidup ini kebetulan buka pos sementara di Forum Grimaldi, selama konferensi ke-10 United Nation Environment Program (UNEP) diselenggarakan di sana.

“Monako mengirim sampahnya ke Prancis,” kata Florence Larini-Negri, wakil Departemen Lingkungan Hidup, PU dan Urbanisme Monaco.

Negara seluas 195 hektare tersebut ternyata tak punya cukup lahan buat mengolah sampahnya sendiri. Masalah sampah jadi isu besar, bagi sebuah negara yang tak bisa menggunakan sistem open dumping sampah di alam terbuka.

Padahal sampah adalah “komoditi” yang dipastikan selalu ada setiap harinya. Dalam 3 hari Konferensi ke-10 UNEP saja, Monako sudah harus mengurus 60 kontainer sampah. Sekitar 630 kilogram sampah kertas hasil konferensi diinsinerasi di Monako oleh Dinas Kebersihan Societe Monegaqque d‘Assainissement. Sampah gelas seberat 2250 kilogram diuraikan di Pabrik Blanchi di Lavilledieux, Prancis. Sementara sampah kemasan plastik dan kertas dikirim ke Pabrik Sivades di Cannes Mandelieu, Prancis. Monako ternyata punya komoditi ekspor sampah ke Prancis.

Sejak Februari lalu, Pangeran Albert II de Monaco berupaya agar negerinya tak lagi merepotkan tetangga. Dia mencanangkan program daur ulang sampah bagi negerinya. Setiap sudut kota disediakan tiga macam kotak sampah. Plastik biru untuk kertas, hijau untuk gelas dan kuning buat sampah sisa kemasan karton atau plastik.

Agar tak bingung, di atas tutup kotak sampah ditempeli gambar-gambar sampah yang boleh masuk ke dalamnya. Setiap kali akan buang sampah, saya mencermati dahulu satu-persatu gambar itu. Tak ingin salah buang sampah di negeri orang. Kehatian-hatian setiap hari semakin bertambah. Terutama saat saya tahu untuk kampanye pemilahan sampah ini, Pemerintah Monako sampai mengeluarkan dana 300 ribu Euro.

Departemen Lingkungan Hidup Monako menargetkan sedikitnya setiap rumah tangga mendaur ulang 20 persen sampahnya. Hingga Januari lalu rumah tangga Monako biasanya hanya mendaur ulang 5 persen sampah mereka. Padahal sekitar 32 ribu penduduk Monako setiap harinya menghasilkan sampah kertas 210 kilogram, sampah gelas 730 kilogram, dan sampah kemasan 63 kilogram. Jumlah yang lumayan besar untuk negara sekecil negeri Grimaldi.

Sampah kertas saat ini sudah bisa ditangani sendiri oleh Dinas Kebersihan Societe Monegasque d‘Assainissement. Kertas-kertas ini diinsinerasi alias diuraikan dengan panas. Proses tersebut akan menghasilkan gas asap, partikel, abu, dan panas. Semuanya dapat digunakan untuk menggerakkan generator listrik. Asap hasil insinerasi ini umumnya tak berbahaya, karena akan terurai dengan sendirinya di atmosfer. Insinerasi juga dipilih karena dapat dilakukan dalam skala kecil, yang tak membutuhkan tanah luas. Cocok bagi negara yang lahannya lebih kecil dari luas Daerah Ibu Kota Jakarta.

Insinerasi ini jelas lebih ramah lingkungan. Jika dibandingkan dengan pengelolaan sampah open dumping misalnya, proses insinerasi menghasilkan gas metan dan karbon yang lebih sedikit. Hasil pengolahan insinerasi pun dapat memanfaatkan sekitar 95-96 persen dari tiap volume sampah yang ada.

Tak hanya Monako, negara-negara Eropa Barat lainnya seperti Jerman, Belanda, Swedia, Denmark, Inggris, dan Prancis telah menggantungkan sebagian besar kebutuhan panas nasional mereka pada proses ini. Energi bisa diperoleh dari hasil buangan masyarakat sehari-hari. Pada tahun 2005, Denmark telah mulai mengoptimalisasi sampah mereka. Sekitar 4,8 persen sumber listrik dan 13,7 persen panas konsumsi nasional Denmark telah bersumber dari proses memanaskan sampah ini.

Menurut peraturan Waste Incineration Directive Eropa, pabrik-pabrik insinerasi tersebut harus memanaskan setiap sampah berbahaya mereka. Limbah-limbah ini masuk bilik khusus dan dipanggang hingga mencapai suhu 850 derajat Celsius selama 2 detik. Dalam kondisi ini zat berbahaya bisa menguap dan terurai.

Proses tersebut akan menghasilkan emisi PM2.5, metal, gas acid, CO2, gas dioksida, dan abu hasil pembakaran. Meski demikian, tetap saja proses insinerasi menghasilkan limbah paling sedikit dibandingkan pengolaan sampah lainnya. Dengan proses open landfill, sampah berbahaya hanya dihancurkan secara manual dengan alat berat. Melepas langsung bahan kimia di dalamnya mencemari lingkungan.

Sayangnya, Monako belum sepenuhnya mampu melakukan hal serupa untuk semua limbah domestik mereka. Bulan lalu Departemen Lingkungan Hidup mati-matian berusaha mencari celah di lahan negara mereka yang kecil. Sekitar 50 titik daur ulang bawah tanah dibangun, guna menyalurkan sampah rumah tangga 32 ribu penduduknya. Namun tetap saja, sisa sampah yang lain harus dibuang ke Prancis.

Monako terus membuang sampah gelas, kemasan, dan limbah berbahayanya ke pabrik-pabrik sampah Prancis. Penduduk cukup membuang sampah cair berbahaya seperti aerosol atau acid ke kantong-kantong ”kangguru”, yang banyak tersebar di Monako. Sementara baterai bekas bisa dibawa ke toko terdekat yang akan menampungnya. Begitu pula dengan sampah obat, yang harus dikembalikan ke farmasi terdekat.

Khusus untuk elektronik dan sofa lama yang ingin dienyahkan, penduduk negara ber-GDP US$300 ribu ini tinggal menelepon Dinas Kebersihan. Sampah-sampah ini untuk selanjutnya dikumpulkan untuk diekspor ke Pabrik Sivades di Cannes Mandelieu dan Pabrik Blanchi di Lavilledieux, Prancis.

Kedua pabrik penampung sampah Monako itu ternyata tidak menerapkan sistem insinerasi. Menurut Departemen Lingkungan Monako, kedua pabrik di Prancis ini hanya menguraikan limbah-limbah berbahaya itu.

”Sampah-sampah itu diuraikan di Prancis secara khusus,” kata Larini-Negri.

Larini-Negri tak mampu menjelaskan ”cara khusus” apa yang jadi jurus pabrik-pabrik sampah Prancis. Belakangan saya tahu kalau sampah-samaph ekspor Monako ini sebagian besar didaur ulang dan sebagian lagi diuraikan. Gelas-gelas dicairkan untuk dipakai kembali, begitu pula dengan kemasan plastik, kaleng, dan kertas makanan. Pendaurulangan ini dilakukan sesuai standar kebijakan Pemerintah Prancis, yang mencoba mengontrol limbah rumah tangga mereka. Sisa sampah yang tak bisa didaur ulang lalu diuraikan dengan menggunakan sistem landfill.

Sementara mengurus sampah Monako ini, Prancis sendiri tak sempat mengurus puntung-puntung rokok yang bertebaran di jalan-jalan mereka.

Tak sadar, saya memandangi botol air mineral di tangan. Ternyata botol ini bernasib sama dengan saya. Setiap hari dikirim pulang ke Prancis. Bedanya, saya pulang ke Nice untuk beristirahat, sementara botol ini akan diekspor ke Cannes untuk diolah.

  • No comments yet.
    1. No trackbacks yet.