Menjadikan Karbon Sebagai Komoditas

By: Veby Indah on November 30th, 2008

, , No comments

Since Protokol Kyoto in 1997, countries agreed to reduce their emition. But lack of commitment made Kyoto didn’t work effectivelly. For impulse, now world leaders thinking about turning the carbon in to comodity, which from where money will involved.

Sejak 1997, Protokol Kyoto sebenarnya telah menjadi landasan kesepakatan negara-negara industri mengurangi emisi karbon mereka. Dalam komitmen ini disepakati 3 program; Clean Development Mechanism (CDM), Joint Implementation (JI), dan Perdagangan emisi karbon internasional. Ketiganya didesain demi memungkinankan pembangunan tetap berjalan seiring upaya membersihkan atmosfer bumi.

Saat ini program CDM dan JI telah masuk dalam kerangka kerja Uni Eropa. CDM memungkinkan negara berkembang terus melanjutkan pembangunan, sementara negara maju diuntungkan dalam fleksibilitas target reduksi emisi. Caranya, dengan menjadikan karbon sebagai komoditas dagang.

Karbon diukur dengan Certified Emissions Reduction (CERs), yang mengukur jumlah emisi karbon dalam metrik ton. Negara-negara berkembang yang memiliki CERs bisa “menjual” pengurangan emisi ini pada negara-negara industri. Proyek CERs dapat diwujudkan dalam bentuk instalasi listrik bertenaga air, atau proyek-proyek efesiensi energi serupa Untuk Indonesia dan negara-negara hutan hujan tropis lainnya, proyek CERs juga bisa dilakukan lewat aforestasi dan reforestasi nasional.

Sejak November 2007, tercatat 852 proyek CDM teregristrasi di 49 negara. Buku tahunan 2008 UNEP memprediksi pada akhir 2012, proyek-proyek tersebut mampu menghasilkan investasi hijau sebesar US$ 1,08 milyar. Sejak Oktober 2007 forum UNFCCC juga menyepakati CDM Executive Board, yang bertugas mengatur dan mengawasi pelaksanaan upaya mendagangkan karbon.

Namun program ini bukan tanpa cacat. Sekitar 40 persen proyek CDM bertujuan mereduksi gas produksi industri semacam HFC 23 dan N2O. Padahal pada kenyataannya, negara-negara berkembang masih mengandalkan HCFC-zat penghasil HFC 23- sebagai pengganti CFC, zat yang dianggap merusak lapisan atmosfer di awal 1990-an.

Buku tahunan UNEP 2008 menganalisis, mereduksi 1 ton metrik HFC 23 akan sama nilainya dengan 11700 metrik karbon dioksida. Industri pun melihat “trik” mengakali CDM. Lebih murah mengganti penggunaan HCFC kembali pada CFC, yang kemudian diakui sebagai usaha mereduksi emisi karbon. Sekalipun tindakan tersebut akan berakibat melobangi atmosfer bumi. Analisa ini sampai pada kesimpulan, mengurangi HFC 23 mampu menghemat US$0,30 dalam sistem CDM per metrik tonnya.

“Kecacatan” CDM tersebut diharapkan dapat ditutup oleh program JI. Program tersebut mengharuskan negara-negara yang meratifikasi Protokol Kyoto terlibat dalam program reduksi emisi karbon di negara-negara lain. JI menerapkan Emission Reduction Units (ERUs), yang dinilai dalam reduksi karbon permetrik ton.

Cara lain yang lebih sederhana berdagang karbon, diwujudkan lewat pasar karbon dunia. Saat ini pasar emisi karbon terbesar dunia masih menjadi milik Uni Eropa lewat European Union Emission Trading Scheme (EU ETS). Sekitar 25 negara pesertanya diharuskan melapor emisi karbon mereka pertahun. Lalu para negara ini akan “membayar dosa” emisi tersebut dalam jumlah tertentu. Dana yang dihasilkan dapat diperjualbelikan antar anggota, atau dijual ke negara-negara lain. Utak-atik karbon sebagai komoditas ini masih terus diolah demi implementasinya di masa depan.

  • No comments yet.
    1. No trackbacks yet.