Laut yang Mati

By: Veby Indah on November 30th, 2008

, , 1 comment

World’s oceans are now in great danger. Carbon emissions are not only injected into the atmosfer. Oceans also suffer because of that. Unep predict in 2100, cold sea will be dead sea. For tropics, its oceans will be saturated at the same time. Newsest discovery found by University of Oregon. They acknowledge that death from Oregon Beach already spread to California and North Washington. While according to UNEp now world has 200 dead seas, instead it were only 150 in 2003.

Steiner said, if world leaders don’t act, there will be no fish left for lunch. They already dead.

Duduk-duduk di pelabuhan Pantai Lavortto, Monako, membuat saya terperangah. Ribuan ikan melintas tepat di bawah kaki. Dasar laut terlihat jelas, menandakan kedalaman laut yang dangkal. Laut Mediterania yang dingin, nampak hangat dengan kehadiran ikan-ikan tersebut.

Tak ada minyak bekas bahan bakar yacht atau perahu yang mengambang di air, atau sampah plastik limbah rumah tangga. Laut Monako yang ramai pariwisata bahari, mampu sejernih lautan Indonesia bagian timur yang masih jarang dijamah orang. Sejak zaman pemerintahan Pangeran Albert I de Monako, negara Grimaldi tersebut menerapkan standar lingkungan maritim yang ketat bagi industri wisata bahari mereka.

Sayangnya, tak semua laut dunia bernasib sama. Di negara milik seorang oseanis itu, United Nations Environment Program (UNEP) mengumumkan laut dunia sudah sekarat.

Sedikitnya dalam tiga perempat abad terakhir, industri penangkapan ikan dunia telah mengancam keseimbangan ekosistem laut. Biota-biota “pencuci” polusi laut seperti kerang-kerangan dan terumbu karang mulai menghilang dari Laut Artik dan Mediterania. Seiring itu pula, komunitas ikan laut turut terancam. Kerang selama ini jadi mesin cuci alamiah, mengubah zat polutan menjadi nutrisi bagi ikan.

”Lautan dunia telah tertekan akibat penangkapan ikan berlebih, polusi dan aktivitas perusak lingkungan lainnya di daerah pantai dan tengah laut,” kata Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP, dalam laporan tahunan lembaga ini, Dead Water.

Kerusakan ekosistem maritim diawali dengan meningkatnya kadar emisi di seluruh laut dunia. Fenomena perubahan iklim turut menaikkan suhu permukaan air laut dalam satu dekade terakhir, yang berakibat mematikan 80 persen terumbu karang yang ada. Padahal tanpa kehadiran tonggak-tonggak laut ini, ikan-ikan kehilangan penghasil nutrisi, dan ikut mati.

Seakan tak cukup mengotori udara, peningkatan emisi karbon ternyata juga terjadi di laut. Akibatnya kadar keasaman air meningkat, dan ”menyikat” biota pencuci polutan semisal kerang. Asam telah menghancurkan kalsium yang sangat dibutuhkan kerang. Bagai mencuci logam, kerang-kerang ini ikut terbilas asam.

Selain kerang, plankton-plankton juga tak tahan asam. Kadar Ph laut yang naik sudah menyapu habis dasar rantai makanan laut ini. Tanpa terumbu karang, kerang dan plankton, ikan paus seukuran Kapal Titanic sekalipun, harus mengucapkan selamat tinggal dunia.

Kini, laut mati tidak hanya dimiliki Timur Tengah saja.

Laporan Global Environment Organization (GEO) ke-4 memprediksi daerah segitiga yang subur terumbu karang semacam Indonesia, akan menjadi laut mati di 2050. Tahun ini daerah mati di lautan dunia sudah mencakup 200 wilayah. Bertambah dari 150 wilayah di 2003.

Laporan UNEP menyatakan, kematian massal biota-biota laut tersebut diakibatkan 3 faktor; masuknya zat-zat asing, eksploitasi laut yang berlebihan dan perubahan iklim. Polusi lautan saat ini sudah mencapai tahap yang tak bisa ditoleransi lagi. Sekitar 10-15 persen laut dunia kini bahkan sudah tak berisi air asin lagi, melainkan zat polutan. Aktifitas manusia seperti wisata pantai, penangkapan ikan berlebihan, penggunaan pukat harimau, bahkan pestisida jadi biang keladi kotornya kampung halaman para ikan ini.

Mahluk superior bernama manusia ikut pula merasakan buah pahit ini. Selama ini sekitar 2,6 milyar penduduk dunia mendapatkan protein mereka dari makanan laut. Sementara kini justru separuh dunia mulai kehilangan 10 persen daerah tangkapan mereka.

Area-area yang terlalu dieksploitasi tersebut perlahan berubah menjadi laut mati. Fenomena terbaru ditemukan Universitas Oregon, Amerika. Secara mengejutkan didapati kematian biota laut ini bagaikan wabah. Kini bukan Pantai Oregon saja yang kehilangan penghuninya, kematian juga mulai menyebar ke Kalifornia dan Pantai utara Washington.

Laut yang mati bukan mustahil berdampak besar pada ekonomi dan sosial budaya sebuah bangsa. Monako misalnya, menggantungkan devisa mereka pada wisata bahari kelas atas. Adifikasi Laut Mediteraniai yang terus berlangsung saat ini, membuat Pangeran Albert II de Monaco ketar-ketir. Sementara Jepang yang menjadi negara pengonsumsi ikan terbesar dunia, harus memperhitungkan fakta lautan Pasifik akan meningkat kadar asamnya pada 2100. Begitu pula Indonesia, yang memiliki sebagian besar daerah segitiga terumbu karang dunia.

Angka-angka itu bukan cuma prediksi. Saat ini laut dunia sudah menunjukkan gejala alamiah akibat emisi karbon. GEO mendata tangkapan ikan secara global tahun lalu berkurang hingga US $ 2 milyar pertahun. Diperkirakan sekitar 7,5 persen ekonomi dunia akan turun, jika proses pengasaman laut terus berlanjut.

Pengurangan ini akan terus berlanjut hingga 90 persen pada 2050. Dengan catatan jika manusia tak mengubah pola aktivitasnya. Saat ini 80 persen polusi laut berasal dari aktivitas manusia di darat. Sisanya, sebagian besar sumbangan aktivitas manusia di tengah laut, seperti penambangan lepas pantai atau pelayaran.

”Sangat penting mengingatkan diri sendiri mengapa kita perlu mengakselerasi transformasi menuju ekonomi hijau,” kata Steiner.

Menurutnya laporan Dead Water telah memetakan secara unik, kerusakan sirkulasi laut dunia. Jika para pemimpin dunia mengacuhkannya, hidangan ikan bakar untuk makan siang hanya jadi impian belaka. Lautnya keburu mati.

  • rizki
    November 25th, 2009 at 15:21 | #1

    sebenarnya apa yang menyebabkan terjadinya polusi asam pada laut ini?
    apakah benar kita sebagai manusialah yang telah menyebabkan hal tersebut?

    1. No trackbacks yet.