Denmark harnesses green power from offshore winds
No commentsDenmark responded to the 1973 oil crisis — when prices rose and producers stopped exports to many countries — with an ambition for independence from this form of fuel.
They are now the world’s leading country in wind power. Wind provides 20 percent of Denmark’s power and the national target is for this to increase to 50 percent by 2030.
The full story follows in Indonesian.
Sempat terpukul dua kali dengan boikot minyak bumi dan melambungnya harga minyak dunia pada era 70-an, membuat Denmark putar otak dan berambisi tidak lagi menggantungkan diri dengan penggunaan minyak bumi. Alhasil, kini ia menjadi negara terbesar di dunia yang mampu menghasilkan listrik tenaga angin.
Dingin pagi itu, suhu mendekati angka nol, permulaan Desember 2009, tak meyurutkan semangat sekitar 40 wartawan dari berbagai negara berkembang yang menerima beasiswa peliputan konvensi perubahan iklim (UNFCCC) COP 15, di Kopenhagen, Denmark untuk pergi melaut. Para wartawan yang tergabung dalam kelompok Climate Change Media Panership (CCMP) pagi itu hendak melakukan kunjungan lapangan melihat dari dekat ladang angin lepas pantai Middelgrunden (Middelgrunden Offshore Wind Farm) yang terletak di Margretheholm Havn, København, Kopenhagen, Denmark.
Dengan menggunakan kapal berkapasitas sekitar 60-an orang, para peserta bisa melihat dari dekat turbin-turbin yang membangun ladang angin itu. Deretan menara dan baling-baling angin berwarna putih tampak berdiri kokoh muncul ke permukaan laut. Dari kejauhan tampak jejeran baling-baling yang berputar indah itu berukuran kecil. Namun begitu mendekatinya, ternyata ukurannya raksasa. Ketinggian menaranya 64 meter dan diameter baling-balingnya 76 meter. Jika dijumlahkan dari menara hingga jari-jari baling-balingnya, bangunan yang terbuat dari perpaduan baja dan beton ini lebih tinggi dari patung Liberty yang hanya 93 meter (ketinggian dari dasar patung hingga ujung obor).
Jan Hylleberg, CEO, Danish Wind Industry Association, menjelaskan Middelgrunden Offshore Wind Farm, mulai dibangun sekitar tahun 2000 dan selesai di Desember tahun yang sama. Dengan 20 bangunan turbinnya, pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai ini bisa menghasilkan listrik 40MW. Namun, dana investasi yang diperlukan untuk mewujudkan itu tidak murah, sekitar 60 juta dólar Amerika.
Turbin-turbin itu dipasang berjejer dengan jarak 180 meter, hingga total panjang keseluruhannya sekitar 3,4 kilometer. Dibangun di kedalaman air sekitar 2 – 6 meter, atas kolaborasi Middelgrunden Wind Turbine Cooperative dan Copenhagen Energy (sekarang Dong Energy), masing-masing mengintalasi sepuluh turbin.
Pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai Middelgrunden bukan satu-satunya di Denmark. Ada sembilan pembangkit lainnya, yang terakhir Horns Rev II yang memiliki total kapasitas 209MW. Jadi, total kapasitas produksi listrik pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Denmark 1700MW.
Denmark tidak saja mengusahakan pembangkit listrik tenaga angin dari lepas pantai, tetapi jauh sebelumnya, sekitar tahun 1976-1978 mereka memulai dari daratan dan saat ini tercatat keseluruhan ada 5100 pembangkit listrik tenaga angin di Denmark. Sebanyak 4.809 turbin dibangun di daratan dan 305 di lepas pantai. Total keseluruhan listrik yang dihasilkan 3.393MW. Dengan kapasitas itu, pembangkit listrik tenaga angin memenuhi kebutuhan listrik Denmark sebesar 20 persen. Lebih dari itu pada tahun 2030, mereka menargetkan menggunakan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai sebesar 50 persen.
Kontribusi listrik tenaga angin ini tidak saja sebagai perwujudan visi jangka panjang Denmark yang ingin bebas dari penggunaan bahan bakar fosil, tetapi juga bagian dari upaya mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Hal itu seiring dengan platform negara mereka yang sejak November 2007 bertekat menjadi negara hijau dengan membangun kebijakan visioner dalam hal energi dan iklim.
Tak hanya memberi kontribusi bagi penyediaan listrik, pembangkit listrik tenaga angin juga membuka lapangan pekerjaan. Sekitar 26.000 orang dipekerjakan di Industri ini pada tahun 2009. Denmark juga menjadi produsen peralatan pembangkit tersebut dan sekitar 27-30 persen pasar dunia berasal dari negara mereka.
Lalu bisakah Indonesia mengikuti jejak Denmark untuk mengakhiri krisis listrik di Indonesia mengingat banyak sumber daya angin di Indonesia? Menurut Rachman Witoelar, Ketua Delegasi Indonesia di COP 15 yang juga mantan menteri Lingkungan Hidup, pembangkit listrik tenaga angin terlalu mahal buat Indonesia. Satu turbinnya saja, harganya miliaran rupiah. Di Indonesia sendiri telah ada pembangkit listrik tenaga angin, misalnya di Bali. Namun teknologinya tertinggal jauh dari yang dipertontonkan Denmark saat ini.
”Yang kita punya itu, mungkin edisi kunonya. Yang mereka punya saat ini sudah sangat canggih. Saat ini kita juga mengembangkan pembangkit listrik ramah lingkungan, yakni dari panas bumi. Itu lebih pas untuk Indonesia yang punya banyak sumber daya panas bumi,” paparnya.
Namun, menurutnya, penting juga bagi Indonesia untuk memanfaatkan pembangkit listrik tenaga angin. Terutama untuk pulau-pulau kecil di Indonesia.***

