Asam di Gunung, di Laut Juga
No commentsClimate change has cost acidification of the oceans. GEO 4 Report said that naturally oceans play a role as natural polutan’s washer. CO2 is not only fly to the sky. It also penetrated in to seas.
Since 1750, Industry revolution has rised CO2 levels too high for seas to control. It makes oceans can’t afford to neutralize it any more. To much carbon caused too much acid and hidrogen’s produced from oceans. It make seas’s Ph level rising, and flush corals, shells and planktons. Without them-which a basic on sea food chain- even a whale sized of Titanic won’t survive.
Perubahan iklim telah mengakibatkan salju Alpen dan Antartika meleleh. Aliran air tawar ini terus menuju laut dan meningkatkan bertambahnya permukaan air laut. Alih-alih menawarkan laut yang asin, kini maritim dunia justru menjadi asam. Penambahan kadar emisi karbon tak hanya terjadi di darat.
Laporan Geo 4 menyatakan laut secara alamiah berfungsi sebagai salah satu penetral karbon dioksida. Laut secara alami memiliki kadar Ph rata-rata 8,2 unit. Setiap karbon yang diserap akan membentuk karbon acid atau yang biasa disebut ”asam muda”. Selain itu, proses kimia alam ini juga akan membentuk ion-ion hidrogen.
Namun produksi karbon dunia melonjak sejak revolusi industri 1750. Saat dunia meributkan karbon yang memanaskan atmosfer, diam-diam lautan pun tak kuat lagi menahannya.Sebagian besar karbon yang masuk ke laut kini lebih banyak berubah menjadi asam. Tim GEO 4 menemukan setiap tahunnya tingkat keasaman laut meningkat rata-rata 0,1 unit. Fenomena ini seiring peningkatan produksi ion hidrogen sejumlah 30 persen.
Asamnya air laut pertama kali berdampak pada binatang-binatang bercangkang dan terumbu karang. Mereka memerlukan asupan kalsium, yang tak mampu lagi diproduksi air laut. Selain itu meningginya kadar Ph perlahan membilas rangka mereka hingga mati.
Naiknya Ph laut memang pertama kali dirasakan biota-biota yang sensitif pada asam. UNEP menyatakan sekitar 75 persen terumbu karang di perairan dingin dunia akan mati pada 2100. Asam kini tak lagi di gunung, namun juga di laut.
Sementara perairan yang hangat seperti laut tropis Indonesia, akan menjadi tersarturasi atau jenuh. Kondisi ini akan menurunkan jumlah aragonite, kalsium karbonat yang biasa digunakan terumbu karang untuk tumbuh. Senasib dengan saudaranya di perairan dingin, Taman laut Bunaken akan mati pada 2100.
”Bukti lebih lanjut adalah pengurangan plankton pasifik di barat laut Atlantik untuk pertama kalinya, sejak pelelehan es Artik dimulai pada 1988,” kata Christian Nelleman, Penyusun Laporan Dead Water UNEP.
Para plankton menghilang sebagai bio indikator air laut tersebut sudah terlalu asam. Secara bersamaan, bencana maritim ini masih ditambah dengan menghangatnya permukaan air laut.
UNEP menemukan spesies ikan dan biota laut di perairan tropis mulai bermigrasi sekitar 1000 km ke arah utara. Kejadian urbanisasi mahluk laut ini, merupakan yang pertama kali terjadi dalam 800 ribu tahun terakhir. Terakhir kali migrasi besar-besaran hewan dan biota laut terjadi di akhir zaman es, yang juga diakibatkan perubahan iklim. Para biota laut rupanya tak ingin buru-buru berubah jadi lauk asam manis.
”Kita semakin banyak mendapatkan peringatan dari alam lewat perubahan besar-besaran di laut. Sekarang kewajiban kita mengubahnya kembali sediakala dan mereduksi emisi di masa depan, demi puncak kesuksesan bersama,” kata Nelleman.

